Kapan Output AI Dianggap Melanggar Hak Cipta? Memahami Konsep “Substantial Similarity

 

1. Pengantar: Output AI Bisa Melanggar Hak Cipta — Tapi Kapan Tepatnya?

AI generatif mampu menghasilkan gambar dan karya seni yang sangat meyakinkan. Namun tantangan muncul ketika output AI:

  • terlihat terlalu mirip dengan karya tertentu

  • meniru komposisi

  • meniru karakter

  • meniru gaya yang sangat khas

  • atau bahkan terlihat seperti versi lain dari karya yang sama

Untuk menentukan apakah output AI melanggar hak cipta, hukum memakai konsep:

Substantial Similarity — “Kedekatan yang Signifikan”

Inilah konsep yang digunakan di AS, Uni Eropa, dan juga relevan dalam konteks Indonesia ketika menilai pelanggaran hak cipta.


2. Apa Itu Substantial Similarity?

Substantial similarity berarti:

Output AI cukup mirip dengan karya original sehingga orang biasa dapat mengenalinya sebagai karya yang sama atau turunan darinya.

Ini tidak harus identik 100%.
Bahkan perubahan kecil (warna berbeda, detail ditambah/ubah) tetap bisa dianggap melanggar jika inti karya tetap sama.


3. Bagian Mana dari Karya yang Dinilai?

Ada dua bagian utama yang diperiksa pengadilan:

A. Protected Expression (yang dilindungi)

  • komposisi

  • perspektif

  • proporsi

  • karakter

  • elemen visual spesifik

  • detail unik

  • struktur karya

B. Unprotected Elements (yang tidak dilindungi)

  • ide

  • style umum

  • teknik

  • tema

  • genre

AI sering mentransformasikan ekspresi, bukan hanya gaya.
Inilah sumber masalah terbesar.


4. Bagaimana Indonesia Melihat Substantial Similarity?

Walaupun UU Hak Cipta Indonesia tidak memakai istilah “substantial similarity”, prinsip ini muncul dalam:

  • Pasal 9: hak reproduksi

  • Pasal 113: pelanggaran pidana atas penggunaan karya

  • Yurisprudensi internasional yang menjadi rujukan praktisi hukum

  • Prinsip moral rights (Pasal 5 & 7) yang melarang distorsi terhadap karya asli

Dalam praktiknya, karya dianggap melanggar jika:

✔ mengandung bagian-bagian signifikan dari karya asli
✔ meniru struktur visual atau karakter
✔ menyesatkan publik bahwa itu karya asli
✔ digunakan secara komersial tanpa izin


5. Bagaimana Pengadilan Amerika Serikat Menilai Kemiripan?

AS memakai dua tes utama:

1) The Ordinary Observer Test

Apakah orang awam akan melihat output AI sebagai karya yang sama atau turunan dari karya asli?

2) Analytic Dissection Test

Pengadilan memisahkan elemen yang dilindungi & tidak dilindungi, lalu membandingkannya.

Contoh kasus AI yang relevan:

  • Andersen vs Stability AI

  • Getty Images vs Stability AI

Seniman mengklaim AI menghasilkan karya mirip yang merusak pasar mereka.


6. Bagaimana Uni Eropa Menilai Kemiripan?

Eropa memakai konsep:

“Reproduction in Whole or in Part”

Jika output AI meniru bagian “substansial” dari karya asli, meski sebagian kecil, tetap pelanggaran.

EU lebih ketat dalam perlindungan ekspresi kreatif dibanding AS.


7. Kapan Output AI JELAS Melanggar Hak Cipta?

Output AI kemungkinan besar melanggar jika:

✔ Output sangat mirip secara visual

✔ Komposisi sama (pose, struktur, layout)

✔ Karakter identik atau hampir sama

✔ Detail teknis khas seorang seniman ikut muncul

✔ Perbedaan hanya kosmetik (warna, filter)

✔ Output dapat “dituduh” sebagai karya artis tertentu

✔ Output mengurangi nilai ekonomi karya asli

Output AI yang “replacement effect” (menggantikan karya asli dalam pasar) juga dianggap serius oleh pengadilan.


8. Kapan Output AI Tidak Melanggar Hak Cipta?

Tidak melanggar jika:

✔ elemen yang digunakan hanya ide atau style umum
✔ hasilnya orisinil & tidak menyerupai karya tertentu
✔ AI memakai dataset legal / lisensi terbuka
✔ pengguna memberi kontribusi kreatif signifikan
✔ karakter & komposisi berbeda total


9. Siapa yang Bertanggung Jawab Jika Output Melanggar?

1) Developer AI

Jika dataset digunakan tanpa izin atau training melanggar hak cipta.

2) Pengguna AI

Jika mereka secara sadar menghasilkan output yang menyerupai karya tertentu.

3) Perusahaan

Jika output AI digunakan untuk tujuan komersial yang menimbulkan kerugian.

AI sendiri tidak bisa bertanggung jawab karena bukan subjek hukum.


10. Kesimpulan

Output AI melanggar hak cipta jika:

➡ Secara substansial mirip karya asli
➡ Meniru ekspresi spesifik, bukan sekadar style
➡ Merusak pasar atau identitas seniman
➡ Dibuat menggunakan dataset ilegal
➡ Tidak ada lisensi, izin, atau atribusi

Inti dari hukum hak cipta:

“Makin mirip, makin besar risiko pelanggaran.”

Substantial similarity adalah konsep kunci yang harus dipahami oleh:

  • user AI

  • pembuat konten

  • seniman

  • perusahaan

  • dan developer AI

agar AI dapat digunakan secara etis, legal, dan bertanggung jawab.

Comments

Popular posts from this blog

Use of Stock Images, Icons, and UI Assets in Games: Legal Rules Developers Must Know

Music Copyright in Games: Licensing, Usage Rules, and Legal Risks for Developers

What Makes AI Training Data Illegal? A Breakdown of the Most Common Dataset Violations in AI Development